BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Kamis, 07 Januari 2010

Pertamina versus Petronas

Banyak di antara kita yang berpikir bahwa bekerja di perusahaan migas asing ialah suatu hal yang amat membanggakan tanpa menyadari bahwa perusahaan asing tersebut pada dasarnya sedang mengambil keuntungan lebih untuk negaranya sendiri. Dan sekalipun begitu, kita tetap saja mengikuti proses seleksi kerja di salah satu perusahaan migas asing yang beroperasi di Indonesia. Termasuk saya, seorang mahasiswa yang baru saja lulus dan tergiur akan gaji dan fasilitas sebuah perusahan minyak dan gas.



Mengapa kondisi seperti itu bisa terjadi? Ada apa sebenarnya dengan industri minyak dan gas nasional kita? Sebagian dari kita menyalahkan perusahaan migas nasional kita yang kurang kredibel dan bonafit dan sebagian lain beralasan ingin meniti karir dengan standar internasional. Namun, bukan itu yang hendak saya bahas dalam artikel ini karena saya ingin mencoba menggali permasalahan tersebut dari sisi yang lain.
Beberapa hari yang lalu saya sedang mengisi waktu luang saya dengan melihat berbagai informasi yang tersebar di internet dan saya menemukan potongan artikel yang sangat menarik. Please enjoy reading this while listening to music and having a cup of coffee in the morning.. =p


Someone asked:“Semua orang pasti sudah tahu bahwa Pertamina mempunyai sumber minyak yang banyaknya gak ketulungan. (halaah.. bahasanya..) Bila kita lihat Petronas, mereka tidak mempunyai sumber minyak di negaranya dan kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas jika dibandingkan dengan Indonesia. Dear all.. Do you know why Petronas grow faster and bigger than Pertamina??“


And the answer was:“Yang mempunyai sumber minyak banyak adalah Indonesia, bukan Pertamina. Dalam hal ini, pemerintah memberi wewenang pada BP MIGAS untuk mengurusi pengelolaan kontrak perusahaan terhadap ladang minyak dan gas.”


Apabila diangkat dari aspek ekonomi politik, permasalahannya adalah karena BP MIGAS seringkali memberikan hak konsesi kepada pihak asing diluar Pertamina untuk mengelola suatu ladang minyak yang ada di Indonesia. Banyak alasan yang dilontarkan BP MIGAS dalam keputusan tersebut, katakanlah dengan alasan Pertamina korupsi, atau strukturnya yang masih payah, dikatakan tidak mampu secara teknologi, atau dibilang minim pendanaan. Alasan terakhir ialah alasan yang dikemukakan Pemerintah kita saat pengelolaan di Blok Cepu diserahkan kepada ExxonMobil dan bukan sepenuhnya kepada Pertamina.




Alasan-alasan tersebut bisa dikatakan logis namun juga agak dibuat-buat. Mari kita coba untuk meninjau alasan-alasan tersebut satu per satu. Alasan pertama: katakanlah Pertamina korupsi. Bukankah seharusnya Pemerintah bertanggungjawab memberantas korupsi yang terjadi di Pertamina? Atau mungkin Pemerintah tidak mampu memberantas korupsi di Pertamina karena Pemerintah dan DPR juga sedang sibuk korupsi? Atau mungkin karena adanya solidaritas sesama koruptor?? Entahlah.. hanya mereka yang tahu.


Alasan kedua ialah struktur dan sistem manajemen Pertamina yang belum benar. Bukankah seharusnya Pemerintah mempunyai tanggungjawab moral untuk mendorong Pertamina melakukan pembenahan internal? Apabila pengelolaan minyak dan gas malah diserahkan ke pihak asing, bukankah itu sama saja semakin mematikan Pertamina? Dan untuk alasan teknologi, Pertamina sudah memiliki teknologi yang udah diakui oleh Inggris. Sedangkan untuk alasan pendanaan, seharusnya keuntungan tahunan Pertamina jangan disedot besar-besaran untuk menutupi defisit anggaran atau malah dimasukkan ke kantong pejabat. Pertamina untung? Ya, sekalipun dengan adanya subsidi BBM atau apapun itu namanya, Pertamina masih menghasilkan untung yang sangat besar.


Pada poin pertama tadi, saya bermaksud memberi tahu bahwa Pemerintah kita kurang mendukung Pertamina sebagai perusahaan migas nasional. Apabila hal itu terus berlangsung, kapan Pertamina bisa maju? Keadaan benar-benar berbeda apabila melihat Petronas. Perusahaan minyak dan gas milik Malaysia itu menjalankan operasi yang didukung penuh oleh Pemerintah Malaysia dengan cara memberikan sebagian besar hak konsesi khusus ke Petronas dan bahkan mendorong Petronas untuk melakukan ekspansi ke luar negeri.


Pada poin kedua, saya ingin meninjau aspek bisnis industri minyak dan gas itu sendiri. Menurut saya, penyebab kekalahan Pertamina ialah inefisiensi pengeluaran. Banyak pengeluaran yang seharusnya tidak perlu dilakukan apalagi ditambah dengan pengeluaran yang kurang jelas juntrungannya. Sebagai contoh yang dapat kita lihat ialah biaya sewa kapal tanker. Biaya sewa tersebut sangatlah mahal dan dapat mencapai US$60.000 per HARI untuk SATU kapalnya. Nah, Pertamina menyewa kapal dengan jumlah lebih dari 140 padahal kapal Pertamina tidak lebih dari 30 buah. Apabila mau berpikir panjang, seharusnya Pertamina memutuskan untuk memiliki kapal sendiri sebagai investasi. Beberapa tahun yang lalu Pertamina sempat memiliki kapal tanker VLCC namun kapal tanker tersebut dijual oleh Menneg BUMN (Laks. Sukardi) saat Megawati menjabat sebagai Presiden. Dan apa yang terjadi sekarang? Ternyata penjualan tersebut dipermasalahkan karena adanya dugaan praktek korupsi dalam penjualannya.

Apabila diangkat dari aspek ekonomi politik, permasalahannya adalah karena BP MIGAS seringkali memberikan hak konsesi kepada pihak asing untuk mengelola suatu ladang minyak yang ada di Indonesia.

Bottomline, apabila ditinjau dari segi ekonomi politik dan bisnis, Pertamina akan sulit berkembang di masa depan bila kondisinya terus seperti itu. Sayangnya, kita sebagai warganegara Indonesia tidak bisa mengubah keadaan itu karena itu semua ialah keputusan petinggi-petinggi negara kita. Tapi setidaknya, kita dapat membantu Pertamina dengan membeli produk buatan Pertamina. Beli Produk Pertamina, Kita Untung Bangsa Untung.
Patut teman-teman ketahui bahwa di negara kita Indonesia yang kaya akan minyak ini, Pertamina hanya memegang 8 persen dari pangsa pasar migas di Indonesia dan sisanya dipegang Chevron, Total, Exxon, CNOOC, dan perusahaan migas asing lainnya. Walaupun hanya memiliki 8 persen pasar, Pertamina dapat menghasilkan keuntungan Rp35 triliun di tahun 2006. Coba bayangkan apabila 100 persen ladang minyak yang ada di Indonesia dipegang oleh Pertamina.

Di samping itu, 90% keuntungan Pertamina wajib diberikan kepada Pemerintah dan hanya 10% sisanya yang dapat digunakan Pertamina. Bagaimana dengan Petronas? Keadaan Petronas berkebalikan dengan Pertamina karena hanya 10% keuntungan Petronas yang diberikan untuk Pemerintah Malaysia. Itulah penyebab mengapa Petronas dapat melakukan ekspansi besar-besaran. Mengapa Pertamina sulit melakukan ekspansi? Keuntungan rata-rata tahunan Pertamina ialah Rp27 triliun dan hanya Rp2.7 triliun yang tersisa di Pertamina padahal untuk membangun sebuah kilang baru dibutuhkan dana sekitar Rp 13 triliun.

Pertamina Unit Pengolahan IV Cilacap


Pertamina Unit Pengolahan IV Cilacap merupakan salah satu dari 7 jajaran unit pengolahan yang memiliki kapasitas produksi terbesar yakni 348.000 barrel/hari, dan terlengkap jenis produknya. Kilang ini bernilai strategis karena memasok 34% kebutuhan BBM nasional atau 60% kebutuhan BBM di Pulau Jawa. Selain itu kilang ini merupakan satu-satunya kilang di tanah air saat ini yang memproduksi aspal dan base oil.
Kilang Unit Pengolahan IV terdiri dari:
1. Fuel Oil Complex (FOC) I, dan Lube Oil Complex (LOC) I.
2. Fuel Oil Complex (FOC) II, dan Lube Oil Complex (LOC) II, serta Lube Oil Complex III yang dibangun bersamaan dengan Debottlenecking (1998/1999).
3. Kilang Petrokimia Paraxylene.


Kilang Minyak I /Fuel Oil Complex I(FOC I)
Kilang Minyak I dibangun tahun 1974 dengan kapasitas semula 100.000 barrel/hari. Kilang Minyak I ini beroperasi sejak diresmikan Presiden RI tanggal 24 Agustus 1976. Sejalan dengan peningkatan kebutuhan konsumen, tahun 1998/1999 ditingkatkan kapasitasnya melalui Debottlenecking project sehingga menjadi 118.000 barrel/hari. Kilang ini dirancang untuk memproses bahan baku minyak mentah (crude oil) dari Timur Tengah, dengan maksud selain mendapatkan BBM (bahan bakar minyak)sekaligus untuk mendapatkan produk NBM (Non BBM) seperti bahan dasar minyak pelumas (lube oil base) dan aspal (bitumen), mengingat karakter minyak mentah dari dalam negeri tidak ekonomis untuk produksi dimaksud.

Kilang Minyak II /Fuel Oil Complex II(FOC II)
Kilang Minyak II dibangun tahun 1981, dengan pertimbangan untuk pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri yang terus meningkat. Kilang yang mulai beroperasi 4 Agustus 1983 memiliki kapasitas awal 200.000 barrel/hari. Mengingat laju peningkatan kebutuhan BBM ditanah air, sejalan dengan proyek peningkatan kapasitas (debottlenecking) pada tahun 1998/1999, maka kapasitasnya juga ditingkatkan menjadi 230.000 barrel/hari. Kilang ini mengolah minyak mentah "cocktail" yaitu minyak campuran, tidak saja dari dalam negeri juga di impor dari luar negeri.

Lube Oil Complex (LOC I, II, III)
Lube Base Oil diproduksi oleh Lube Oil Complex I & II. produk ini kemudian dicampur dengan additive untuk menjadi pelumas seperti "Mesran", dan produk lain yang sejenis yang dapat ditemui dipasaran.
Dengan peningkatan capasitas melalui proyek Debottlenecking (1998/1999), maka dibangun Lube Oil Complex III (LOC III), sehingga kapasitas bertambah dari 225000 ton/tahun menjadi 428 ton/tahun.

Kilang Paraxylene
Kilang Paraxylene Cilacap dibangun tahun 1988 dan mulai beroperasi tanggal 20 Desember 1990. Total kapasitas produksi adalah 590000 ton/tahun terdiri dari produk-produk: Paraxylene, Benzene, LPG, Rafinate, Heavy Aromate, dan Fuel Gas. Pada saat pembangunanya, produk kilang ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bahan baku aromatik(setengah jadi) untuk kilang UP III Plaju, disamping untuk export. Namun semua produk benzene hanya untuk diexport, sedang produk lain untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Info Produk Non BBM
LPG
Naphtha
Aspal (Asphalt)
Aspal diproduksi oleh Kilang LOC I/II/III, dihasilkan oleh jenis Crude Oil jenis Asphaltic berbentuk semisolid, bersifat Non Metalik, larut dalam CS2 (Carbon Disulphide), mempunyai sifat waterproofing dan adhesive. Di Indonesia hanya Pertamina Unit Pengolahan IV Cilacap yang dapat menghasilkan Asphalt dari minyak bumi. Setelah selesainya proyek Debottlenecking maka produksi aspal meningkat dari 520 kiloton/tahun menjadi 720 kiloton/tahun. Jenis aspal yang diproduksi adalah Penetrasi 60/70 dan Penetrasi 80/100.


Heavy Aromate
Heavy Aromate adalah produk sampingan yang diproduksi oleh unit Naptha Hydro Treater. Heavy Aromate digunakan sebagai bahan solvent.


Lube Base Oil
Lube Base Oil adalah bahan baku pelumas atau disebut pelumas dasar, diproduksi oleh MEK Dewaxing Unit (MDU) I, II, dan III dalam bentuk cair. Lube Base oil digunakan sebagai bahan baku minyak pelumas berbagai jenis permesinan baik berat maupun ringan. Selain itu lube base oil juga digunakan untuk bahan kosmetika.


Low Sulphur Waxy Residue (LSWR)
Low Sulphur Waxy Residue (LSWR) merupakan bottom produk dari Crude Distilling Unit (FOC II). LSWR digunakan sebagai bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk BBM dan NBM, disamping dapat dimanfaatkan sebagai minyak bakar untuk pemanas di negara-negara bersuhu dingin.


Minarex (Pertamina Extract)
Seperti telah diketahui bahwa crude oil (minyak mentah /minyak bumi), dapat menghasilkan bermacam jenis produk, tidak hanya produk BBM tetapi juga produk non BBM serta produk petrokimia.
Proses ekstraksi dari LOC I,II&III tidak hanya menghasilkan base oil, parafinic, asphalt dan IFO (Industrial Fuel Oil), tetapi juga menghasilkan produk hasil ekstraksi yang diberi nama Minarex (Pertamina Extract). Minarex dapat digunakan untuk proses industri pada industri karet seperti ban dan tinta cetak, karena dapat
memperbaiki proses penulakan (?) dan pemekaran karet.
menurunkan kekentalan komponen karet.


Parafinic Oil
Paraffinic oil adalah proccessing oil dari jenis Paraffinic dengan komposisi Paraffinic Hydrocarbon, Nepthenic, dan sedikit Aromatic Hydrocarbon. Paraffinic oil pada umumnya digunakan sebagai proccessing oil pada produk karet yang berwarna terang yaitu sebagai
bahan kimia pembantu pada industri penghasil barang karet seperti ban kendaraan bermotor, tali kipas, suku cadang kendaraan.
proccessing oil dan extender untuk polymer karet alam dan karet sintesis.
base oil untuk tinta cetak.


Toluene
Toluene diproduksi dalam bentuk cair. Toluene digunakan sebagai bahan baku TNT, solvent, pewarna, pembuat resin. Juga untuk bahan parfum, pembuat plasticizer dan obat-obatan.


Produk BBM (Bahan Bakar Minyak)
Bensin Premium
Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna kekuningan yang jernih. Warna kuning tersebut akibat adanya zat pewarna tambahan (dye). Penggunaan premium pada umumnya adalah untuk bahan bakar kendaraan bermotor bermesin bensin, seperti : mobil, sepeda motor, motor tempel dan lain-lain. Bahan bakar ini sering juga disebut motor gasoline atau petrol.


Solar /Gasoil (HSD: High Speed Diesel)
Minyak solar adalah bahan bakar jenis distilat berwarna kuning kecoklatan yang jernih. Penggunaan minyak solar pada umumnya adalah untuk bahan bakar pada semua jenis mesin diesel dengan putaran tinggi (diatas 1.000 RPM), yang juga dapat dipergunakan sebagai bahan bakar pada pembakaran langsung dalam dapur-dapur kecil, yang terutama diinginkan pembakaran yang bersih. Minyak solar ini biasa disebut juga Gas Oil, Automotive Diesel Oil, High Speed Diesel.


Avtur / Avgas
Kerosene
Minyak tanah atau kerosene merupakan bagian dari minyak mentah yang memiliki titik didih antara 150 °C dan 300 °C dan tidak berwarna. Digunakan selama bertahun-tahun sebagai alat bantu penerangan, memasak, water heating, dll yang umumnya merupakan pemakaian domestik (rumahan).


IDF (Industrial Diessel Fuel)
Minyak Diesel adalah hasil penyulingan minyak yang berwarna hitam yang berbentuk cair pada temperature rendah. Biasanya memiliki kandungan sulfur yang rendah dan dapat diterima oleh Medium Speed Diesel Engine di sektor industri. Oleh karena itulah, diesel oil disebut juga Industrial Diesel Oil (IDO) atau Marine Diesel Fuel (MDF).


IFO (Industrial Fuel Oil)

Rabu, 06 Januari 2010

STORY FOR ALL MESSENGER


Hidden Message berdiri pada tanggal 18 Februari 2006 di kota Cibinong-Bogor, Hidden Message dalam bahasa Indonesia artinya “pesan yang tersembunyi”. Kami meyakini bahwa setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini adalah pesan yang tersembunyi dari yang maha kuasa. Dimana pesan tersebut bisa sebagai teguran atau petunjuk bagi manusia agar menjadi lebih baik lagi. Hidden Message melalui lirik-lirik dari setiap lagu yang diciptakannya mencoba menyampaikan pesan-pesan sosial yang diharapkan dapat memberikan pengaruh positif bagi pencinta musik. Hidden Message berawal dari pertemanan antara Nawi, Adit dan Bonar yang terinspirasi oleh satu band dari luar negeri yang beraliran Punk Rock. Saat itu mereka masih tergabung di band nya masing-masing, Adit bersama Tally Whacker yang beraliran Metal Hardcore, Nawi bersama Otre yang beraliran Punk Rock dan Bonar bersama Shed of Tree beraliran Emotional. Dalam satu kesempatan mereka bertiga membicarakan konsep musik untuk Hidden Message. Dan mereka sepakat untuk mencari satu personil lagi yaitu Angga yang merupakan adik kelas Bonar di SMA. Ternyata chemistry diantara mereka sangat kuat, mereka berempat sepakat untuk menjadikan Hidden Message sebagai sarana untuk menyalurkan kreatifitas mereka dalam bermusik. Selama 1 tahun beberapa lagu pun tercipta dan Hidden Message mencoba untuk membuat demo. Bersamaan dengan itu Hidden Message mulai meramaikan acara-acara dan festival musik di Bogor dan sekitarnya. Ternyata diluar dugaan respon untuk Hidden Message cukup baik, hal ini mendorong Hidden Message untuk lebih mengeksplor musik mereka untuk mencari karakter musik Hidden Message yang sebenarnya. Eksperimen pun dilakukan pada lagu-lagu mereka, dengan menambahkan synthesizer, loop dan instrument lainnya. Dan ternyata musik yang dihasilkan cocok untuk karakter Hidden Message. Untuk merealisasikan konsep musik ini Hidden Message merekrut Ricky dari Turbo Blip yang beraliran musik 8-bit. Setelah itu mereka sepakat menamakan karakter musik Hidden Message adalah “Power Pop New Sound Of Punk”. Dengan konsep ini, Hidden Message memberanikan diri untuk membuat mini album. Sekali lagi respon positif diterima Hidden Message. Langkah Hidden Message pun diuji saat ricky yang sudah bersama Hidden Message selama 5 bulan, memutuskan untuk resign dari Hidden Message untuk lebih berkonsentrasi dengan Turbo Blip. Namun itu tidak berlangsung lama. Untuk menggantikan posisi Ricky, Hidden Message sampai saat ini dibantu oleh Echa Boca.

my first wet dream


Bogor - My First Wet Dream (MFWD) band Kota Bogor yang dimotori lima musisi muda ini semakin eksis menghentak panggung-panggung event kota hujan dengan menghadirkan musik bergenre Pop Punk. Band yang formasinya diisi Adit (vocal), Inizz (rhythm guitar), Uun (melody guitar), Andi (bass), dan Andre (drum) ini dibentuk pada 2005. Menurut Inizz, band seperti Starting Line dan Rocket Rockers merupakan beberapa band yang mampu meng-influence mereka dalam bermusik.”Salah satu perbedaan pada musik kami adalah, kami memasukan sound piano di aransemen lagu-lagu MFWD,” ujar Inizz, satu-satunya personil perempuan di band itu kepada Jurnal Bogor, kemarin.Sementara untuk lirik, imbuhnya, tema lagu-lagu band tersebut banyak bercerita tentang cinta dan persahabatan, dengan dibalut lirik yang catchy. Salah satunya ialah Waiting for Nothing, lagu dengan beat lembut yang didominasi unsur piano, sekaligus merupakan salah satu single mereka yang melejit.”Lirik kami memang lebih banyak diinspirasi oleh tema cinta dan persahabatan. Waiting for Nothing salah satunya, lagu itu bercerita tentang perasaan cinta seseorang, yang sayangnya nggak kesampaian,”ujar sang vokalis, Adit.Band yang kini tergabung dalam Straighten Managenent itu mengaku tak menolak tawaran label manapun yang ingin bekerjasama dengan mereka. ”Indie atau Major bukan masalah, asalkan kami bisa tetap jadi diri sendiri dengan konsep musik MFWD,” tegasAdit.Ia menambahkan, di album baru nanti, mereka akan menghadirkan musik dan lirik yang lebih ceria dibanding album sebelumnya. Namun karya mereka kini bisa dinikmati lewat full album bertitel ‘Hope We’ll be “a Better We”’ (2008) yang menghadirkan 11 lagu, setelah sebelumnya bergabung di album-album kompilasi, diantaranya Putih Dalam Abu (2006), We Have No Idea 2 (2006), dan Good for Your Ears (2007).”Kami ingin masyarakat lebih merespon musik kami, walau mungkin masih banyak yang belum mengenal Pop Punk. Tapi kami justru ingin mensosialisasikan musik minor,” pungkasnya.

ROCKET ROCKERS HISTORY


Rocket Rockers lahir pada tahun 1998 dengan nama awal Immorality President (Firman guitar/voc, Aska guitar/voc, Bisma bass/voc, Doni drums), namun nama itu hanya berjalan sekitar 1 tahun saja, karena vokalis yang pertama keluar karena satu dan lain hal. Sehingga pada tahun 1999 para personelnya masih mencari vokalis, dan akhirnya mereka mendapatkan seseorang yang bernama Ucay yang baru saja keluar dari band skate rock terdahulunya New Kicks On The Board. Setelah Ucay masuk, nama Immorality President berubah menjadi Rocket Rockers dengan pertimbangan membuat image baru yang lebih fresh. Terciptalah Rocket Rockers dengan formasi awal: (Aska guitar/voc, Ucay vocal, Bisma bass/voc, Doni drums). Dengan formasi 4 personel, Rocket Rockers memulai dari bawah. Menjadi band seleksian untuk mendapatkan panggung, menjadi bagian paling memorable, dimana mereka merasakan jerih payah sulitnya mendapatkan panggung di kota sendiri (Bandung). Berbagai penolakan dari acara-acara yang dimasuki menjadi cambuk bagi mereka untuk terus keep on the line dan tidak mengikuti trend musik yang sedang hype waktu itu, karena musik yang Rocket Rockers bawakan masih jarang bergema di panggung-panggung bawah tanah dan pensi-pensi. Sampai akhirnya mereka membutuhkan 1 lagi personil untuk mengisi posisi guitar agar lebih harmoni. Lalu masuk Lope mengisi posisi rhythm. Dengan formasi berlima, merekapun mulai dikenal di berbagai acara kampus, pensi dan underground (walau Rocket Rockers tidak mengklaim diri sebagai band underground, karena mereka hanya ingin bermain musik, that�s it ). Namun mereka sangat dekat sekali dengan semua komunitas/scene independent dikotanya maupun diluar kota, sehingga banyak link yang mensupport propaganda mereka. Salah satunya dengan masuknya Rocket Rockers ke kompilasi-kompilasi seperti Fallen Angel, Still Punx, Still Sucks!, No Place To Get Fun, Bad Tunes And Some Ordinary Things, Ripple (Demo) #8, New Generation Calling, Hati Keccil (vcd bmx). Rocket Rockers juga sempat menjadi salah satu band pembuka Skin Of Tears (band punkrock asal Jerman) di Dago Tea House Bandung.
Sampai akhirnya pada tahun 2001 ketika mereka main di acara Bazzar SMU Taruna Bakti Bandung, aksi panggung mereka dilirik oleh Robin Malau (mantan gitaris band hardcore legendaris: Puppen). Robin pada waktu itu menawarkan Rocket Rockers untuk menjadi band perwakilan Volcom, karena Puppen yang pada saat itu disponsori oleh Volcom Indonesia akan bubar jalan. Kontan mereka cukup shock dengan penawaran tersebut, karena tidak menyangka sama sekali. Jalan sudah terbuka, dan mereka berpikir inilah saatnya untuk maju ke level berikutnya. Rocket Rockers-pun mulai dikenal di komunitas skateboard seiring seringnya mereka main di acara skateboarding seperti acara Volcom itu sendiri, kejuaraan Indonesia Skateboard Association (ISA), dll. Hampir sekitar 6 bulan jalan dengan di-endorse oleh Volcom, akhirnya Rocket Rockers resmi kontrak dengan Volcom Indonesia pada tanggal 1 Juni 2002. Belum sebulan setelah resmi kontrak dengan Volcom, Rocket Rockers juga mendapat kontrak sponsor dari produk kacamata skate/surf Electric sunglasses.
Pada bulan Agustus 2002 akhirnya Rocket Rockers mengeluarkan album pertamanya yang bertitle "Soundtrack For Your Life" dibawah label indie Off The Records. Album "Soundtrack For Your Life" cukup mendapatkan respon yang luar biasa dari berbagai kalangan. Sampai suatu saat, single lagu "Finishkan" menjadi No.1 beberapa minggu di chart indie Radio Prambors. Berbagai media masa cetakpun memprediksikan Rocket Rockers menjadi "The Next Big Thing" (Hard Act To Follow Next Year) bersama Superman Is Dead, The White Stripes, The Hives dan The Vines �Majalah HAI No.45 11 Nov 2002-. Juga beberapa media massa seperti Boardriders, Ripple Magazine, Pause Magazine, Gadis, Kawanku, Pikiran Rakyat, dll mulai banyak mengulas Rocket Rockers. Untuk video clip, Rocket Rockers memilih single "Tergila" garapan Cerrahati dan sudah tayang di MTV. Pensi-pensi sampai acara independent-pun banyak mengundang Rocket Rockers untuk menjadi bagian dari acara. Sampai akhirnya gaung Rocket Rockers mulai merambah ke luar kota dan pulau. Sebutlah Jakarta, Bekasi, Subang, Pandeglang, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, sudah dilalui dan undangan dari Medan, Bali, Balikpapan, Ujung Pandang, Singapore terus meramaikan e-mail dan guestbook di website. Melihat demand yang semakin tinggi terhadap Rocket Rockers, membuat mereka harus menjalankan band dengan profesional, sampai akhirnya bergabung dengan Soda Music Development bersama Burgerkill. Tata management yang rapih dan profesional sudah dilaksanakan Rocket Rockers untuk berbagai kepentingan seperti negosiasi acara, masuk kompilasi, soundtrack, merchandise, sponsorship sampai website.
Setelah album pertama sukses di pasaran hingga mencapai angka 10.000 copy lebih, bulan Agustus 2003 Rocket Rockers habis kontrak dengan Off The Records. Namun sayang, Off The Records tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada Rocket Rockers, malah semakin mis-komunikasi. Lalu di akhir 2003, Doni (drummer) resmi mengundurkan diri dari Rocket Rockers untuk menyelesaikan studi-nya. Posisi drum lalu di ganti oleh Ozom (Khrisna) dan menjadi personel tetap. Ozom sempat juga aktif membantu di beberapa band seperti Killed By Butterfly, Authority, Marvel, LBL, dll. Dengan modal seadanya akhirnya Rocket Rockers membuat 5 lagu demo live untuk merilis E.P mereka sendiri dengan records sendiri. Namun tanpa di duga, akhir tahun 2003 Sony Music memberikan tawaran untuk merilis album. Rocket Rockers akhirnya resmi kontrak 6 album dengan Sony Music. Sampai akhirnya keluarlah album ke 2 mereka yang ber-title "Ras Bebas" berisikan 15 lagu. Informasi terakhir, website Rocket Rockers juga sudah masuk ke dalam punkrock.org bersama band-band international lainnya.